Menembus Bukit-Lembah, PPM Pertamina EP Donggi Matindok Field Mulai Dirasakan Warga Kayowa dan Nonong Batui Banggai

BANGGAINEWS.COM– Realita di lapangan terkadang tidak bisa dilihat hanya dari balik meja. Untuk mengetahui sejauh mana sebuah program pemberdayaan memberikan manfaat kepada masyarakat, perjalanan harus ditempuh.
Bahkan ketika dituntut harus rela melewati bukit dan lembah. Yaitu jika menggunakan kendaraan sekitar 20 menit, dan berjalan kaki sekitar 40 menit.

Hal itulah yang terlihat dan dirasakan langsung dalam kunjungan puluhan awak media ke wilayah Desa Kayowa dan Desa Nonong, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (02/10/2026) pagi hingga sore tadi.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung sejumlah program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) yang mendapat dukungan PT Pertamina.
Di lapangan, program tersebut mulai memperlihatkan hasil. Tidak hanya berupa pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga pendampingan, pemberian bantuan, edukasi, serta upaya mendorong kelompok masyarakat agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

Salah satunya terlihat pada Kelompok Usaha Bersama Lestari yang mengembangkan usaha ayam petelur.
Ketua Kelompok Usaha Bersama Lestari, Joni mengatakan, bantuan yang diterima kelompok berupa sarana dan prasarana, termasuk bibit ayam petelur, mulai dirasakan manfaatnya.
“Pemilihan lokasi di sini tidak mengganggu pemukiman. Sudah mulai dapat dirasakan manfaatnya oleh kami,” ujar Joni.
Kelompok tersebut terbentuk pada 2025 dan mulai mengelola usaha ayam petelur pada 2026.

Joni menyampaikan apresiasi kepada PT Pertamina EP Donggi Matindok Field atas dukungan yang diberikan kepada kelompoknya.
Menurutnya, produksi telur saat ini mencapai sekitar lima rak per hari. Dengan satu rak berisi 30 butir, produksi harian mencapai sekitar 150 butir telur.
Hasil produksi tersebut kemudian dipasarkan secara lokal untuk memenuhi kebutuhan warung dan rumah tangga di desa setempat.
“Sehari lima rak. Satu rak 30 biji. Telah dipasarkan secara lokal untuk memenuhi kebutuhan warung dan kebutuhan rumah tangga di desa kami,” ungkapnya.
Namun perjalanan mengembangkan usaha tersebut bukan tanpa tantangan. Di mana dari bantuan awal sebanyak 200 ekor ayam petelur, saat ini tersisa sekitar 184 ekor. Sebagian ayam disebut mengalami stres sehingga tidak lagi produktif dan akhirnya mati.
Anggota kelompok, Andreas Puadali menjelaskan bahwa ayam petelur membutuhkan kondisi lingkungan yang relatif tenang, dan pengelolaan yang konsisten.
“Ayam petelur ini sangat sensitif. Tidak bisa bising. Karena mudah stres yang bisa berakibat tidak lagi produktif,” jelas Andreas.
Menurutnya, kebutuhan pencahayaan juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam petelur. “Kebutuhan cahaya 16 jam kami pastikan. Makanya kami jaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, seekor ayam petelur dapat berproduksi dalam jangka waktu yang cukup panjang apabila dipelihara dengan baik. Yaitu 100 Minggu atau 2 tahun.
Apalagi jika seperti kandang yang dibangun melalui program PPM PT Pertamina EP Donggi Matindok Field ini, memiliki ukuran sekitar 3,5 meter x 30 meter. Dinilai masih representatif.
Oleh karena itu, kelompok mereka berharap dapat memperoleh tambahan bibit ayam petelur. Sehingga kapasitas kandang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Sebagai anggota kelompok yang menjaga langsung kandang ini, saya kira masih memungkinkan untuk menampung hingga sekitar 1.000 ekor ayam,” tutupnya.
Pihak PT Pertamina EP Donggi Matindok Field melalui Bagian Relations, Fuad dan Dedy Wahyu. Keduanya menjelaskan, bahwa Kelompok Usaha Bersama Lestari merupakan salah satu kelompok yang difasilitasi melalui program PPM, termasuk sarana dan prasarana pendukung.
Dedi mengatakan, prinsip PPM yang dijalankan tidak semata-mata memberikan bantuan, tetapi juga mendorong keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat.
“PPM mereka pada prinsipnya dua, yaitu pelibatan dan pemberdayaan,” tandas Dedy.
Ia berharap program tersebut dapat melahirkan penggerak ekonomi lokal dari masyarakat Desa Kayowa.
“Melalui PPM ini tercipta seorang pemimpin sekaligus penggerak ekonomi bagi masyarakat lokal Desa Kayowa,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan yang diberikan merupakan stimulus awal untuk mendorong kelompo, agar mampu berkembang dan menuju kemandirian.
“Paket yang sehat, ayam yang sehat akan menghasilkan telur yang sehat,” terang Dedy.
Dari Ayam Petelur Berlanjut ke Lahan Jagung
Manfaat program pemberdayaan juga terlihat pada Kelompok Tani Mosaangu yang berada di wilayah Desa Kayowa dan Nonong.
Kelompok tersebut mengembangkan tanaman jagung, salah satunya untuk mendukung kebutuhan pakan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mosaangu, Benny Irawan mengatakan hasil panen jagung dari lahan seluas satu hektare dapat mencapai nilai sekitar Rp20 juta dalam satu kali panen.
“Hasil itu sedikit menurun dari panen sebelumnya karena musim hujan. Namun ke depan di musim kemarau saat ini, diharapkan hasilnya lebih lumayan,” harapnya.
Ia mengakui peningkatan produksi tidak terlepas dari pembinaan dan pendampingan yang diberikan, termasuk melalui kegiatan sekolah lapang oleh PT Pertamina EP DMF.
Melalui sekolah lapang, petani mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan tanaman, penggunaan pupuk, hingga cara meningkatkan efisiensi budidaya.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan BioFerdom dan mikoriza sebagai bagian dari pendekatan pengelolaan pertanian.
Rekan rekan Fuad dan Dedy yang berposisi sebagai Relations PT Pertamina EP DMF yakni Muh Syair.
Dalam Sekolah Lapang Petani Jagung, ia menjelaskan, penggunaan BioFerdom membuat kebutuhan pupuk yang digunakan menjadi lebih efisien. Dari sebelumnya 16 sak, penggunaan dapat ditekan menjadi sekitar 13 sak.
Pendampingan tersebut juga diarahkan untuk membantu petani memahami kondisi tanah, air, akar, unsur hara, serta pengelolaan tanaman secara lebih menyeluruh.
Mengenal Mikoriza, Sahabat Akar Tanaman
Dalam sekolah lapang tersebut, petani juga mendapatkan pemahaman mengenai mikoriza.
Mikoriza merupakan hubungan simbiosis antara jamur tertentu dengan akar tanaman.
Dalam hubungan tersebut, tanaman menyediakan karbon dari hasil fotosintesis, sementara mikoriza membantu memperluas wilayah eksplorasi akar di dalam tanah sehingga tanaman dapat memperoleh akses terhadap air dan unsur hara tertentu.
Untuk tanaman jagung, mikoriza arbuskula menjadi salah satu jenis yang relevan karena dapat membantu meningkatkan akses tanaman terhadap fosfor dan unsur hara tertentu.
Pesan utama yang disampaikan kepada petani sederhana, tetapi penting. “Tanaman yang sehat berawal dari akar yang kuat,” terangnya.
Mikoriza sambung Syair, bukan pengganti pupuk, melainkan dapat menjadi pelengkap dalam pengelolaan tanah dan tanaman.
“Manfaatnya pun dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi tanah, tanaman, air, jenis mikoriza, dan pola pengelolaan lahan,” terangnya lagi.
Selain itu, dalam kesempatan sekolah lapang tersebut, petani tidak hanya diberikan penjelasan secara teori. Juga dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan pupuk BioFerdom.
Pemberdayaan yang Harus Terus Bertumbuh dan Berkelanjutan
Dari kandang ayam hingga hamparan tanaman jagung, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses.
Ada bantuan awal, ada pendampingan, ada pembelajaran, tetapi pada akhirnya kelompok masyarakatlah yang harus mengelola dan mengembangkan usaha tersebut.
Di Kayowa dan Nonong, cerita itu kini mulai terlihat. Ayam petelur mulai menghasilkan telur yang dipasarkan untuk kebutuhan lokal.
Petani jagung juga antusias menerima materi hingga pada praktik langsung pembuatan pupuk BioFerdom, untuk mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui sekolah lapang.
Dengan demikian, melalui PPM semua pihak menaruh harapan tidak berhenti pada pemberian sarana dan prasarana.
Dengan bantuan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field tersebut, dapat menjadi pemantik lahirnya kegiatan ekonomi yang mampu tumbuh, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Pasalnya, ukuran keberhasilan pemberdayaan pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak bantuan yang diberikan.
Akan tetapi, sejauh mana masyarakat mampu memanfaatkannya, mengelolanya, dan perlahan berdiri dengan kekuatan sendiri. Sehingga dapat turut berkontribusi pada terwujudnya visi utama Presiden RI, Prabowo Subianto.
Yaitu Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045, dan misi Asta Cita ke 2 yang berfokus pada ketahanan pangan dan energi.
Catatan: SOFYAN TAHA
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik: Banggai News
