Nikel Mengalir, Jalan Tetap Rusak: Warga Siuna Menanti Keadilan Pembangunan dari Negara untuk Banggai

Di tengah derasnya arus investasi dan geliat industri pertambangan nikel di Desa Siuna, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), terselip pertanyaan mendasar terus menggema dari masyarakat: mengapa kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas infrastruktur yang dinikmati warga?
Desa Siuna merupakan salah satu wilayah yang turut menopang pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pertambangan nikel.

Aktivitas industri berlangsung setiap hari, kendaraan operasional lalu lalang, dan nilai ekonomi yang dihasilkan terus bergerak.
Namun di balik itu, warga masih harus berjibaku dengan jalan berlubang, rusak, dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
Kondisi tersebut memunculkan ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, daerah ini menjadi bagian dari rantai industri strategis nasional.
Di sisi lain, kebutuhan dasar masyarakat berupa akses jalan yang layak justru belum sepenuhnya terpenuhi.
Warga tidak menolak investasi. Sebaliknya masyarakat mengakui kehadiran industri tambang sedikit banyak telah membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Akan tetapi, dukungan terhadap investasi juga harus diimbangi dengan komitmen pembangunan yang nyata dan berkeadilan.
Infrastruktur jalan provinsi yang kini telah menjadi jalan kabupaten, Lumba-Lumba misalnya serta sejumlah ruas jalan lingkungan atau jalan desa memiliki fungsi vital bagi kehidupan masyarakat.
Jalur tersebut menjadi akses menuju permukiman, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga sarana distribusi hasil usaha warga.
Ketika jalan mengalami kerusakan, maka yang terdampak bukan hanya kenyamanan berkendara. Akan tetapi juga aktivitas ekonomi, biaya transportasi, dan keselamatan masyarakat.
Harapan warga sejatinya sederhana. Pemerintah daerah (Pemda) diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur di pusat-pusat aktivitas perkotaan, melainkan juga memberikan perhatian serius terhadap jalan provinsi, kabupaten, dan lingkungan desa yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di wilayah penghasil sumber daya alam (SDA).
Pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik atau angka dalam laporan anggaran. Infrastruktur adalah indikator kehadiran negara melalui Pemda dalam menjamin pemerataan manfaat pembangunan.
Terlebih bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas eksploitasi (SDA) yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.
Sudah saatnya pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk atau tingginya produksi tambang yang keluar.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah sejauh mana masyarakat di sekitar kawasan industri, turut merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Warga Siuna kini menunggu langkah konkret Pemda. Sebab bagi mereka, jalan yang baik bukan hanya soal mobilitas. Akan tetapi juga simbol keadilan pembangunan.
Ketika nikel terus mengalir dari perut bumi Desa Siuna, masyarakat berharap kesejahteraan dan pembangunan juga mengalir kembali ke desa yang menjadi sumbernya.
Catatan : SOFYAN TAHA
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik: Banggai News
