Kabut Asap Kian Menyelimuti Kota Luwuk Banggai, Begini Tanggapan Sekaligus Harapan Plt Kadinkes Kepada Masyarakat

BANGGAINEWS.COM- Kondisi udara di wilayah dalam Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) akhir-akhir ini, mulai menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Kabut asap tampaknya kian menyelimuti sejumlah kawasan, sehingga kondisi kualitas udara dikhawatirkan dapat mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan udara kurang baik.

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Banggai, Nurmasita Datu Adam pada Sabtu (03/10/2026) akhir pekan ini menyampaikan, tanggapan sekaligus harapannya, agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan selama kondisi udara belum kembali normal.
Dikonfirmasi terkait kondisi Banggai yang akhir-akhir ini tampak kian berkabut asap, masih masuk kategori sehat atau seperti apa!? Lantas seperti apa pula himbauannya kepada masyarakat Banggai menghadapi kondisi yang kian mengkhawatirkan? Karena sepertinya sudah makin banyak yang terkena batuk.
Menurutnya, untuk menentukan kategori sehat akibat kemarau atau kebakaran hutan di ukur berdasarkan aturan indeks standar pencemaran udara ( ISPU) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ada kategori pengukuran kualitas udara aman, baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat dan berbahahaya.
“Belum bisa dikategorikan karena harus melalui pengukuran,” katanya kepada awak media ini melalui pesan WhatsApp pukul 12.18 WITA, siang ini.
Plt Kadinkes Nur menambahkan, perubahan cuaca di musim kemarau dan kabut banyak mengakibatkan penyakit saluran pernapasan (ISPA) sep batuk, sakit tenggorokan akibat udara yang kering, debu, asap, polusi udara yang meningkat, penyakit saluran pencernaan sep Diare.
Dan juga kolera akibat debit air bersih yang kurang, penyakit DBD akibat menampung air di tempat penampungan air yang tidak ditutup, paparan suhu panas menyebabkan dehidrasi atau kekurangan cairan.
“Antisipasi, kurangi beraktifitas di luar rumah jika tidak diperlukan. Menggunakan masker pada saat beraktifitas di luar rumah. Perbanyak konsumsi air putih. Menutup penampungan air. Terapkan 3 M (menguras, menutup, mengubur), tempat penampungan air,” imbuhnya.
Serta masih kata dia, hindari aktifitas fisik di bawah terik matahari secara langsung. Istrahat yang cukup. Jika bergejala mengakses layanan kesehatan terdekat.
(SOF)
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik: Banggai News
