Kamis Besok, Mentan RI Andi Amran Sulaiman Direncanakan Hadir di Luwuk Banggai

BANGGAINEWS.COM- Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI), Andi Amran Sulaiman dijadwalkan hadir langsung di Luwuk, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Kamis (10/09/2026) besok.
Kehadiran Mentan RI tersebut dalam rangka menjalankan sejumlah agenda di sektor pertanian, termasuk panen raya padi dan peresmian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di wilayah dataran Toili.
Informasi mengenai rencana kunjungan tersebut disampaikan sejumlah staf Kantor Bupati Banggai kepada awak media, Rabu (09/09/2026) siang tadi.
Salah satu agenda utama Mentan Andi Amran Sulaiman adalah mengikuti panen raya padi di Unit 12, Desa Tirta Sari, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.
Dengan sejumlah agenda tersebut, kunjungan Mentan Andi Amran Sulaiman ke Banggai menjadi perhatian masyarakat, khususnya para petani dan pelaku sektor perkebunan di wilayah Toili.
Seperti diketahui, dalam video berdurasi 1,45 detik sebagaimana viral melalui tiktok itu, warga mempertanyakan alasan di balik kecilnya penghasilan yang diterima orang tuanya. Padahal mengelola lahan sawit seluas 5 hektar.
“Orang tua kami itu dalam sebulan paling Rp2.000.000 yang dikirimkan. Kalau tadi cerita sawit itu harganya tinggi, saya jadi bertanya-tanya, di mana nilai kesejahteraannya? Dari pandangan Pak Mentan, masalahnya ada di mana?” tanya warga tersebut.
Mendengar pertanyaan itu, Mentan Amran langsung memotong dan mengejar detail informasi lapangan, mulai dari kisaran harga beli TBS (Tandan Buah Segar), nama perusahaan pembuat kebijakan harga, hingga lokasi persis perkebunan tersebut.
Dari penuturan warga, terungkap bahwa harga beli sawit di daerahnya berkisar antara Rp2.600 hingga Rp3.200 per kilogram.
Perusahaan yang dimaksud diduga adalah PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) yang beroperasi di wilayah Unit 12, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Mendengar batas harga terendah yang menyentuh angka Rp2.600 per kilogram, Mentan Amran tak tinggal diam.
Ia menilai harga di bawah standar pasar tersebut mengindikasikan adanya indikasi permainan harga yang merugikan petani kecil.
“Kalau 3.200 itu sudah bagus. Tapi kalau 2.600, proses dia! Beri sanksi, saya tanggung jawab!” tegas Amran.
Mentan Amran langsung menginstruksikan jajarannya, termasuk berkoordinasi dengan Brigjen Hermawan, untuk segera menghubungi Kapolresta setempat dan mengirimkan surat panggilan kepada pihak manajemen PT KLS.
Amran menegaskan bahwa pemerintah tetap membutuhkan keberadaan pengusaha untuk menggerakkan roda ekonomi, tetapi tidak toleran terhadap praktik yang mencekik rakyat kecil.
“Kita tidak mau mematikan pengusaha. Pengusaha kita butuh, tapi jangan jahat, jangan nginjak orang kecil! Yang penting (harga) di bawah 3.000, periksa! Suruh cek langsung ke lapangan,” pungkasnya.
(SOF)
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik: Banggai News
