Potongan Surga yang Terserak di Luk Panenteng

OLEH: ISKANDAR DJIADA

Cahaya matahari Rabu siang (23/9/2020) itu belum cukup menghangatkan suhu udara. Jam digital di ponsel juga baru menunjukkan angka 09.34 Wita. Masih terbilang pagi.

Meski demikian,  cahaya matahari yang menyeruak di antara pepohonan dan memantul langsung ke permukaan air hingga membuat warna biru di air danau itu kian berkilau, begitu menggoda dan seolah memanggil siapapun untuk menceburkan diri.

“Ayo turun, ayo mandi, berenang dan selami aku,” begitu kira-kira panggilan alam yang muncul dari permukaan biru Danau Paisu Pok, salah satu mahakarya agung Sang Pencipta yang jatuh di Desa Luk Panenteng, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Dan benar, rekan seperjalanan kami, Aswad, tak tahan untuk segera menceburkan diri. Papa dua anak yang bekerja di salah satu perusahaan hulu migas itu, seolah tak sabar untuk menjajal keahlian renang dan menyelamnya di hamparan indah birunya Paisu Pok.

Apa yang dilakukan Aswad, ternyata mendorong kami untuk bergegas dan ikut terjun ke air danau mungil yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pemukiman warga.

Bahkan ada rekan seperjalanan kami yang sebenarnya tak tahu berenang, juga tak tahan untuk ikut berendam, meski hanya di tepian dan dilengkapi dengan pelampung sewaan pula.

Rekan lain, Haris Ladici, yang sejatinya tengah asik menulis indahnya Paisu Pok, bahkan tak tahan saat digoda untuk ikut terjun ke dinginnya air danau. Meski akhirnya ia terlihat gemetaran karena merasakan dinginnya air danau, namun ia mengaku sulit untuk tak tergoda menceburkan diri, kala menyaksikan riuhnya senda gurau kami yang tengah berendam dan berenang.

Sementara beberapa rekan lain yang tak ikut mandi dengan ragam alasan, tetap mencari sisi lain indahnya potongan surga yang terserak di Luk Panenteng, dengan mengambil gambar aneka sisi danau hingga membuat video vlog.

Yah, Danau Paisu Pok memang mempesona. Keindahannya memang sulit untuk dilukiskan hanya melalui tulisan. Karenanya, di sela-sela nikmatnya mandi, berenang serta menyelam, hampir semua rekan seperjalanan termasuk penulis sendiri, tak bisa mengabaikan hasrat untuk berfoto ria. Kenangan di Paisu Pok terlalu rugi bila hanya jadi cerita tanpa gambar.

Dan setelah dua jam menikmati birunya air danau, kamipun kembali ke kapal sekira pukul 11.45 Wita. Rasa lapar yang sejatinya sudah terasa sejak tiba di Pelabuhan Luk Panenteng, setelah tiga jam sebelumnya menikmati perjalanan KM Harvest Star dari Luwuk, ditambah rasa lapar usai berenang di Paisu Pok, langsung terbalaskan dengan hidangan nasi dan ubi bete rebus berteman ikan tuna bakar, ikan woku dan sayur bunga pepaya serta sambal tomat yang pedasnya menantang.

Hidangan istimewa ala chef lokal Luk Panenteng itu benar-benar nikmat, bahkan melebihi nikmatnya aneka menu yg kerap berseliweran di aplikasi online. Praktis, tak ada rekan seperjalanan yang tidak tambah, karena lezatnya suguhan menu tradisional itu.

Setelah beristirahat sejenak usai makan siang, beberapa dari kami kembali mendatangi spot lain di Luk Panenteng, yakni pemandian Paisu Batango. Lokasinya di tepian pantai dan hanya berjarak sekira 100 meter dari pelabuhan, tempat bersandarnya kapal yang kami tumpangi. Oleh warga, Paisu Batango tak hanya jadi tempat pemandian, namun menjadi sumber air bersih guna memenuhi kebutuhan memasak dan mencuci.

Sumber air bersih yang muncul dari sela-sela batu itu, sejatinya pernah penulis datangi sekira tahun 2007 dan menjadi tulisan berita seputar air bersih bagi warga setempat.

Dan kali ini, penulis sudah bertekad untuk tak sekadar menjadikan Paisu Batango sebagai objek tulisan, namun penulis harus mandi dan berenang, merasakan dinginnya air yang saat laut pasang, berubah  rasa menjadi payau karena bercampur dengan air laut. Dan benar, baru saja menjejakkan kaki di air, dinginnya sudah terasa hingga ke tulang.

Namun bagi penulis, terlalu sayang kalau potongan surga itu juga tak diselami. “Abaikan dingin, ayo berenang,” teriak mas Ichsan, rekan seperjalanan kala mengajak beberapa dari kami yang sempat ragu untuk berendam atau dalam bahasa Luwuknya ‘batono’.

Sementara si Aswad yang memang jago berenang dan menyelam, mungkin punya kantong udara lebih besar dari punya kami di paru-parunya, sudah lebih dulu mondar mandir dan sesekali menghilang di sela-sela batu Paisu Batango.

Meski hanya sekira satu jam, namun kami cukup puas menikmati pesona pemandian yang juga jadi sumber air bersih itu. Tak lupa pula, lukisan keindahannya kami abadikan melalui foto. Yah, rugi memang kalau tak ada gambar yang jadi pelengkap kisah perjalanan.

Rabu siang itu, kala berbagai daerah di Indonesia termasuk di Sulteng, ramai dengan perbincangan seputar Pilkada yang memasuki tahap penetapan pasangan calon, kami memang bisa melupakannya sejenak, yah hanya sejenak, saat berhadapan dengan pesona Paisu Pok dan Paisu Batango, potongan surga yang terserak di Desa Luk Panenteng.

Bagi penikmat wisata alam, dua destinasi yang ada di Bangkep itu sangat layak  direkomendasikan untuk dikunjungi.**

Tinggalkan Komentar