BANGGAIDAERAHNEWS

Banggai Harus Tumbuh Bersama, Adaptasi dan Berbasis Potensi 24 Kecamatan Jadi Kata Kunci

Foto: ISTIMEWA

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pertumbuhan ekonomi daerah tidak lagi bisa berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya harus dipacu secara simultan, terarah, dan berbasis pada potensi unggulan yang dimiliki 24 kecamatan di Kabupaten Banggai.

Tanpa itu, pembangunan hanya akan menghasilkan ketimpangan baru, bukan kemajuan yang merata.

Di tengah dinamika global dan tekanan ekonomi yang kian kompleks. Daerah termasuk Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dituntut lebih adaptif dalam memanfaatkan kekuatan lokal.

Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, hingga industri kreatif bukan sekadar pelengkap.

Melainkan fondasi utama yang harus dioptimalkan melalui inovasi dan peningkatan kapasitas SDM.

Di sinilah akselerasi menjadi kunci, mempercepat transformasi dari pola konvensional menuju sistem yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing.

Namun peningkatan SDM tidak cukup hanya dengan pelatihan formal atau program jangka pendek.

Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri, akses terhadap teknologi, hingga kemitraan strategis antara pemerintah, dunia usaha termasuk pers, dan masyarakat.

BACA JUGA:   Ironi Harga Minyak Goreng Naik, Kopra Petani di Banggai Masuk Pabrik Wilmar Group Antre dan Anjlok Rp10 Ribu per Kilogram

SDM yang unggul adalah mereka yang tidak hanya terampil. Akan tetapi, juga adaptif dan mampu menciptakan nilai tambah.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang digenjot harus bersifat inklusif. Artinya, hasil pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.

Akan tetapi, mampu menjangkau kelompok masyarakat luas. Termasuk pelaku UMKM, dan komunitas lokal.

Tanpa inklusivitas, pertumbuhan ekonomi berisiko memperlebar jurang sosial dan melemahkan stabilitas daerah.

Pendekatan berbasis potensi unggulan menjadi strategi paling rasional. Setiap kecamatan di Kabupaten Banggai pada khususnya, memiliki karakteristik dan kekayaan yang berbeda.

Seperti di wilayah Kecamatan Batui, Batui Selatan, Toili, Toili Barat, Moilong, Toili Jaya. Memiliki kekayaan pertanian sawah.

Selain sejak tahun 2000 an lalu, ditemukan potensi minyak dan gas bumi (Migas) yang telah dikelola negara. Di mana merupakan energi tidak terbarukan. Jumlahnya terbatas, habis jika terus digunakan, dan tidak dapat diperbarui dalam waktu singkat.

BACA JUGA:   Dorong Komoditas Durian Nambo Jadi Produk Unggulan Sulteng, Pemkab Banggai Akan Hadiri Kegiatan Kemenkum HAM di Palu Besok

Kecamatan Kintom dan Nambo. Memiliki kekayaan buah-buahan seperti durian. Kecamatan Luwuk, Luwuk Selatan, memiliki kekayaan pariwisata Pantai Kilo 5 dan beberapa air terjun.

Kecamatan Luwuk Utara, selain memiliki kekayaan pariwisata. Juga perkebunan buah naga. Kecamatan Luwuk Timur hingga wilayah lingkar kepala burung, memiliki kekayaan pertanian sawah, perkebunan kelapa dalam, dan perikanan.

Demikian halnya Kecamatan Bualemo dan Kecamatan Pagimana, memiliki kekayaan perikanan, perkebunan kelapa dalam, dan pertambangan minerba.

Selanjutnya di wilayah Kecamatan Lobu hingga Bunta, Nuhon, dan Kecamatan Simpang Raya. Memiliki kekayaan perkebunan kelapa dalam.

Mengabaikan hal ini sama saja dengan menyia-nyiakan peluang. Dengan pemetaan yang tepat, potensi lokal dapat diolah menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Sekaligus membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Catatan pentingnya, akselerasi tidak boleh mengorbankan keberlanjutan. Eksploitasi sumber daya tanpa kontrol, justru akan menjadi bumerang di masa depan.

BACA JUGA:   Pria di Bualemo Banggai Tak Berkutik saat Diciduk Polisi dan Sita 75 Paket Sabu Siap Edar

Oleh karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan kapasitas SDM harus menjadi prinsip utama.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh keberanian mengambil langkah strategis, dan konsistensi dalam implementasi.

Akselerasi peningkatan SDM dan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi unggulan bukan sekadar jargon.

Melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan daerah mampu bertahan, dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat akhir-akhir ini hingga ke depannya. (*)

Catatan: Sofyan Taha

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik: Banggai News