Harapan Jalan dan Listrik Bagi KAT Loinang di Dusun Tombiobong

NEWS OPINI
Catatan: Sofyan Taha

PENGALAMAN berburu berita meski penuh tantangan, termasuk harus menempuh jarak puluhan kilo meter. Hal itu yang membuat saya dan rekan-rekan awak media tidak keberatan ketika diajak mitra untuk berkunjung ke Komunitas Adat Terpencil (KAT) Loinang, Dusun Tombiobong, Desa Maleo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah yang fasilitasnya masih serba terbatas.

Niat kami selain untuk menambah pengalaman, juga untuk dapat mengenal lebih dekat KAT Loinang yang masih merupakan saudara kami sesama rakyat Kabupaten Banggai.

Berkunjung di KAT Loinang dan jauh dari jangkauan masyarakat perkotaan Kabupaten Banggai itu tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi saya dan rekan-rekan. Yaitu selain sarana prasarana yang serba minim, juga jalan menuju KAT Loinang penuh tantangan. Kami semua harus ekstra sabar sekitar dua jam baru sebatas untuk sampai ke Desa Maleo Jaya.

Sesampainya di Desa Maleo Jaya menuju KAT Loinang Dusun Tombiobong masih membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit. Selain harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilo meter dengan melewati jalan aspal rusak, jalan setapak dengan bebatuan yang relarif besar sehingga bergelombang, juga jembatan gantung yang membelah sungai dengan air yang relatif deras.

Setelah melewati jembatan gantung, untuk menuju pemukiman KAT Loinang, saya dan rekan-rekan dipersilahkan memilih dua alternatif tumpangan. Yaitu sepeda motor Trail ataukah mobil double cabin.

Dan sesampainya di pemukiman KAT Loinang Dusun Tombiobong yang masih serba kekurangan dengan akses yang tidak mudah dijangkau. Namun, ada alasan yang membuat saya dan rekan-rekan tetap semangat dalam menjalankan tugas peliputan. Yaitu karena sudah niat untuk dapat melihat langsung situasi dan kondisi warga setempat. Dimana meskipun jauh di mata namun dekat di hati, karena masih sebagai utus (saudara) apalagi saudara sesama muslim.

Adapun yang menjadi kebahagiaan saya dan rekan-rekan awak media, Perwakilan SKK Migas dan Perwakilan Manajemen JOB Tomori sesampainya di KAT Loinang adalah anak-anak di sana itu terlihat antusias menerima kami yang akan melaksanakan beberapa program pemberdayaan masyarakat (Community Development) dalam bidang Kesehatan, Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Pelestarian Lingkungan. Dimana sejak tahun 2020 dilaksanakan JOB Tomori bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai.

Seperti program peningkatan kesehatan dengan pemberian Nutrisi Tambahan Anak (NUTANAK) untuk mencegah stunting di KAT Loinang. Selain itu, JOB Tomori juga melakukan program peningkatan kualitas pendidikan dengan pembangunan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tombiobong beserta sarana permainan edukasi anak-anak.

Sementara itu, untuk program pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan JOB Tomori memberikan peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan fasilitasi perkebunan KAT Loinang yang dibagi dalam dua kategori. Masing-masing tanaman jangka pendek yaitu bawang merah, dan tanaman jangka panjang yaitu lada.

Warga yang sudah dewasa meski awalnya saat kami coba mendekat terlihat kaku sehingga sempat membuat kami segan. Namun, setelah berkenalan apalagi dengan menggunakan bahasa saluan. Meski warga setempat hanya sesekali menjawab, dan lebih banyak diam kemudian hanya mengamati orang-orang disekelilingnya. Namun, ternyata bisa cepat akrab.

Bahkan salah satu orang tua bernama Om Sikaap yang saya salami, awalnya hanya tetap berdiam di atas rumah tiangnya dengan pakaian bertelanjang dada dan bawahan hanya ditutupi sehelai kain yang dililit menyerupai celana kolor. Setelah berhasil kami ajak turun, dan melihat langsung prosesi penanaman bibit di Kebun Sahabat Alam sambil menghisap sebatang rokok yang kami berikan, langsung bisa membaur dan diajak berfoto bersama.

Saya sempat terheran-heran saat bersama beberapa rekan awak media dan seorang perwakilan manajemen JOB Tomori yang akrab disapa Bang Ruru, dipersilahkan naik oleh Om Sikaap ke rumah tiangnya dan menanyakan beberapa hal usai acara pemberian Nutrisi Tambahan Anak (NUTANAK) dan peresmian pembangunan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tombiobong beserta sarana permainan edukasi anak-anak, dan penyerahan bantuan beberapa alat perkebunan.

Saat ditanya asal usul mereka, Om Sikaap yang berperawakan kumis putih namun rambut hitam tebal itu menjelaskan dengan dialek bahasa saluan kemudian diartikan seorang rekan, bahwa mereka berpola hidup berkebun dengan berpindah-pindah (nomaden). Dimana sampai saat ini warga mereka kebanyakan atau sekitar 100 KK lebih, masih memilih mendiami sekitar mata air di Desa Bangketa, Kecamatan Nuhon.

Ia sendiri mengaku baru sekitar setahun terakhir di KAT Loinang. Dan ketika hendak ke tempat warganya di sekitar mata air Desa Bangketa, Kecamatan Nuhon itu. Jika dirinya berjalan seorang diri melintasi perbukitan maka hanya membutuhkan waktu sehari penuh. Sementara apabila bersama keluarga (istri dan anak) maka dibutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Sayapun sempat terharu dengan warga, utamanya anak-anak di sana yang begitu semangat dalam menghadapi situasi dan kondisi keterpencilan mereka dengan tetap bisa tersenyum bahagia.

Di masa pandemi Covid-19 ini, Om Sikaap dan warga asli setempat lainnya, kelihatan sama sekali tidak mengetahui apalagi menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak (3M).

Selain itu, Om Sikaap menceritakan, jika dirinya sedikit mengenal Bupati Banggai terpilih masa jabatan 2021-2026, Amirudin Tamoreka. Alasannya, semasa hidup orang tua atau ayah dari Bupati Amirudin, kerap muncul ke dusun mereka untuk membeli hasil hutan yaitu rotan.

”Sehingga, saat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Banggai 2020 kemarin, biar belum ada sempat muncul berkunjung langsung. Namun, di dusun kami ini Amirudin menang,” cerita pria yang tidak mengetahui persis usianya karena alasan tidak tahu berhitung itu.

Untuk makan sehari-hari dan merokok, ia dan warga dusun itu, berladang dengan menanam padi ladang jenis Habo dan tembakau untuk rokok yang dilinting sendiri. Untuk padi ladang usai panen hasilnya oleh warga KAT Loinang Dusun Tombiobong dijual ke Desa Maleo Jaya yang dihargai Rp 200 ribu per sak isi 50 Kg.

Segala keterbatasan yang ada pada KAT Loinang Dusun Tombiobong itu, tidak serta-merta menyurutkan semangat tetap bertahan hidup mereka.

Om Sikaap berharap dengan sudah adanya sarana dan prasarana gedung PAUD dan sarana permainan edukasi anak-anak atas bantuan kerjasama
Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai dan JOB Tomori. Kedepan jalan ke dusun mereka mendapatkan perhatian untuk diperbaiki, dan dialiri listrik PLN sebagai penerangan.

“Dua harapan kami jalan dan listrik, agar kami mudah untuk keperluan berobat keluar dan lainnya,” pungkas kakak kandung ketua adat setempat Om Pesawat itu.***

Tinggalkan Komentar