Soal Antrean Panjang Disejumlah SPBU, Komisi 3 DPRD Banggai Gelar RDP

LUWUK-BN. Komisi 3 DPRD Banggai menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan menghadirkan Depot Pertamina, Hiswana Migas, pemilik lima SPBU, Satpol PP serta asosiasi sopir, Selasa (3/12) kemarin. RDP itu dipimpin anggota Komisi 3, Nasir Himran dan Sientje Najoan.

Perwakilan Asosiasi Sopir Kabupaten Banggai, At mengaku, keberadaan jerigen di SPBU menjadi salah satu pemicu mengularnya antrean kendaraan. Mestinya, SPBU tidak lagi melayani jerigen, kecuali ada surat resmi.

“Setelah mengisi 10 jerigen, barulah giliran mengisi satu kendaraan. Bayangkan saja, ada 350 liter untuk 10 jerigen. Itu yang membuat antrean panjang,” keluh asosiasi sopir.

Nasir Himran mengatakan, SPBU harus melakukan pengawasan. Ketika ada pengisian jerigen dengan alasan untuk hand traktor, mestinya tak dilayani. Sebab kata politisi PKS ini, di wilayah Kota Luwuk tidak ada areal persawahan. Berbeda dengan nelayan. SPBU harus melayani. Tapi dengan jumlah yang ditentukan.

“Nelayan juga tidak bisa berpuluh-puluh jerigen. Menggunakan rompong saja, paling banyak 2 liter. Tidak sampai 10-20 liter,” kata Aba Ateng, sapaannya.

Perwakilan SPBU Kilo 5 berujar, pihaknya melayani jerigen untuk penggunaan hand traktor, karena ada OPD memberi kewenangan kepada Balai Penyuluh. Sehingga para petani di wilayah Kecamatan Batui dapat dilayani. “Ada 15 orang yang kami layani. Tapi tidak tiap hari,” ucapnya.

Dari lima SPBU yang beroperasi di daerah ini, para sopir rupanya lebih memilih SPBU Kilo 2. Alasan mereka, karena di SPBU yang letaknya berdekatan dengan kantor Depo Pertamina Luwuk itu, tidak melayani jerigen. “Kami lebih suka di SPBU Kilo 2. Karena tidak melayani jerigen, ketimbang SPBU lain,” kata perwakilan asosiasi sopir itu. *SOF

Tinggalkan Komentar